MASIH PERLUKAH PERTAMINA MENYEWA KAPAL SWASTA

MASIH PERLUKAH PERTAMINA MENYEWA KAPAL SWASTA

Oleh : Salamuddin Daeng

Pengembangan Pertamina Perkapalan merupakan strategi yang tepat sehingga stok produk migas nasional tetap terjaga dengan baik namun dengan tetap memperhatikan biaya modal kerja yang harus ditanggung Pertamina. Usaha perkapalan Pertamina sekaligus merupakan dukungan pada program penguasaan maritim pemerintahan Jokowi.

Sejauh ini kinerja Pertamina perkapalan terbukti baik antara lain dari hasil kinerja Perkapalan yang melebihi target. Salah satu lini perkapalan terbaik pertamina adalah PT Pertamina Trans Kontinental yang dimiliki oleh PT Pertamina (Persero) (99,999%) dan PT Pertamina Dana Ventura (0,001%). Perusahaan yang telah beroperasi sejak 9 September 1969 menjalankan Jasa operasi perkapalan meliputi supply vessels, tug boat, cargo vessels, Keagenan.

Di samping itu, Pertamina juga memiliki potensi yang sangat besar untuk melakukan ekspansi ke luar negeri, terlebih hal itu juga didukung dengan kebijakan Pemerintah berupa Pemberian pembebasan Pengenaan PPN di Indonesia untuk kapal-kapal ocean going. Selain itu, Pertamina juga dapat memanfaatkan jalur pelayaran yang melewati wilayah perairan Indonesia (misal rute australia – Jepang/Korea/China) menjadi potensi yang cukup besar untuk meningkatkan volume sektor bunker.

Usaha Membangun Kekuatan Perkapalan Pertamina

Sampai akhir tahun 2018, Pertamina mengelola 67 armada kapal milik sendiri dengan masuknya 1 armada baru Pertamina Shipping yatu MT Pasaman pada tanggal 27 April 2018 dan 200 kapal charter untuk mengangkut kargo internal. Total kapal charter masih 67 % unit perkapalan Pertamina. Namun armada kapal Pertamina akan bertambah 4 kapal baru yang saat ini tengah dalam proses pembangunan di mana penambahan armada baru tersebut untuk memperkuat distribusi BBM (White Oil) domestic.

Selain itu untuk memperkuat Perkapalan telah didirikan PT Pertamina International Shipping (PT PIS) didirikan dengan penyertaan modal sebesar USD 10 Juta, ditambah 4 (empat) unit kapal MR dan 1 (satu) unit Floating Storage Offloading (FSO), yaitu MT Fastron, MT Sungai Gerong, MT Sambu, MT Sei Pakning dan FSO Pertamina Abherka melalui mekanisme spin-off pada tahun 2017.

Sebagai langkah awal dalam upaya mewujudkan visi PT PIS yaitu “To be the Choice of a World Class Company”, PT PIS fokus pada kegiatan angkutan cargo FOB, charter out 4 (empat) unit kapal MR dan 1 (satu) unit FSO serta optimalisasi cargo internal antara lain pemenuhan kebutuhan critical organisation perusahaan, mendukung aktivitas perkapalan Pertamina, pengelolaan angkutan impor dan third party trading ISC, mengelola transportasi laut dan floating storage, menyewa qualified ship management dan penjajakan untuk ekspansi market kapal LNG. Dengan kontrak volume angkutan kargo impor produk dengan ISC Pertamina memberikan ruang gerak untuk dapat bertumbuh dari sisi aset dan profitabilitas.

Sampai akhir tahun 2018, dengan masuknya 1 armada baru PT PIS, yaitu MT PIS Pioneer pada tanggal 30 Maret 2018, armada yang dikelola PT PIS menjadi 6 kapal milik dan dibutuhkan kurang lebih 38 unit kapal charter untuk mengangkut kargo impor ISC.

Selanjutnya, armada PT PIS akan bertambah 2 kapal baru pada tahun 2020 yang saat ini tengah dalam proses pembangunan di Japan Marine United Corporation (JMUC), di mana penambahan armada baru tersebut untuk memperkuat portfolio angkutan crude oil PT PIS. Pada tahun 2018 PT PIS telah menjalankan bisnis jasa angkutan kargo impor produk dan pengembangan bisnis perusahaan dengan menambahkan bisnis jasa angkutan kargo impor crude serta penetrasi jasa angkutan kargo pihak ketiga.

Menurut Pertamina, PT PIS menjadi wadah peletakan aset kapal melaui Special Purpose Vehicle (SPV) sebagai upaya mitigasi risiko sesuai dengan best International shipping practice dan upaya untuk kepentingan mendapatkan pendanaan investasi.

Masih Perlukah Ketergantungan Pada Sewa Kapal ?

Pertamina adalah BUMN terbesar di tanah air. Core usaha Pertamina adalah berada di hulu, pengolahan, distribusi dan ritel. Kesemuanya adalah satu kesatuan usaha yang harus terintegrasi dan tidak dapat dipisah pisahkan satu dengan lain.

Namun usaha distribusi masih terkendala karena Pertamina tergantung pada sebagain besar kapal swasta yang disewa. Pertamina memang menyewa beberapa kapal, gedung kantor, kendaraan dan fasilitas IT atas dasar sewa operasi. Sewa umumnya berlaku selama sepuluh tahun, dengan opsi perpanjangan masa sewa. Pada 31 Desember 2018 dan 2017, beban operasi sewa masing-masing sebesar US$343.868 ribu dan US$782.362 ribu. Biaya sewa ini sangat besar. Namun lebih berbahaya lagi adalah masalah ketergantungan.

Selain itu beberapa masalah muncul dalam dalam kegiatan sewa menyewa kapal pertamina ini yakni kebocoran, losses, BBM, LPG menguap dan lain sebagainya, yang mengakibatkan kerugian negara dan pertamina. Perusahaan tidak dapat mengontrol secara penuh jaringan distribusinya dikarenakan perkapalan yang masih didominasi swasta.

Langkah maju Pertamina dalam menguasai kembali perkapalan BBM, LPG dan LNG merupakan keharusan. Mengingat jaminan pasokan migas tidak boleh terganggu, karena menyangkut stabilitas ekonomi, keamanan nasional dan keselamatan rakyat. Penguasaan perkapalan untuk distribusi oleh Pertamina sendiri merupakan strategi kunci agar kebocoran, losses di masa mendatang bisa ditekan.[•]

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

Cancel reply