Catatan Kisah Dibalik Perjalanan ke Uni Emirat Arab Luhut B Panjaitan

Catatan Kisah Dibalik Perjalanan ke Uni Emirat Arab Luhut B Panjaitan

Hari Minggu (29/9) saya kembali menginjakkan kaki di Jakarta setelah 2 minggu melaksanakan perjalanan dinas terpanjang selama bertugas sebagai menteri. Sebelum berangkat, saya melaporkan langsung rencana perjalanan ini kepada Presiden Joko Widodo. “Pak Luhut akan pergi ke mana saja?”, tanya Beliau waktu itu sampai 3 kali, hingga akhirnya Pak Jokowi mengambil laptopnya dan mengetik sendiri semua jawaban saya mengenai ke mana saya akan pergi, bertemu dengan siapa, dan akan melakukan apa. Itulah Presiden yang saya kenal, selalu bekerja dengan sangat detail.

Saya meminta ijin kepada Presiden untuk pertama-tama mengunjungi Uni Emirat Arab (UEA) dalam rangka menindaklanjuti kerja sama yang sebelumnya telah disepakati oleh Presiden Joko Widodo dan Syekh Mohamed bin Zayed Al Nahyan di Istana Bogor beberapa waktu yang lalu.

Kesepakatan itu menyangkut kerja sama Sovereign Wealth Fund (dana abadi yang dikelola untuk investasi), pendidikan, pertanian, kerja sama energi di sektor hilir dengan Pertamina, dan bantuan pendirian masjid di Solo.

Di Abu Dhabi saya diterima oleh Putra Mahkota UEA tersebut. Bahkan saya diminta duduk di sebelah Beliau untuk diperkenalkan di hadapan 300 anggota DPR mereka. Bagi saya ini adalah satu cara Beliau menunjukkan penghormatan, bukan untuk saya, tapi untuk Indonesia.

Tidak hanya itu, saya juga selalu menerima respon yang begitu cepat dari Beliau untuk setiap poin kerja sama yang saya laporkan. “Jenderal Luhut, apa progres dari pertemuannya,” tanya Putra Mahkota yang juga tidak segan menunjukkan hormatnya kepada saya yang lebih senior secara jenjang karir militer. Saya kemudian menyebutkan satu persatu progres.

Pertama mengenai SWF di mana bulan depan pihak UEA akan bertemu dengan Menteri Keuangan RI dan PT SMI membahas skema dan peraturan yang diperlukan. “Ok, Suhail make sure ini harus jalan, saya mau akhir tahun harus selesai,” perintahnya langsung kepada Menteri Energi dan Industri UEA. “OK, done,” jawaban yang senada seperti ini juga diucapkannya untuk poin-poin yang lain.

Saya pikir-pikir dengan setengah heran, kok gampang sekali “Sang Raja” ini memberikan persetujuan. Setelah saya resapi, sebenarnya bukan semata karena kedekatan kami yang sama-sama memiliki latar belakang militer. Tapi umbrella utamanya adalah karena hubungan yang sangat baik antara Putra Mahkota dengan Pak Jokowi. Sedangkan saya hanya eksekutor yang diperkenalkan oleh Pak Jokowi kepada Syekh Mohamed bin Zayed Al Nahyan waktu kunjungan kenegaraan di Istana Bogor.

Tapi memang kedua hal tersebut yang membuat hubungan saya dengan Putra Mahkota menjadi personal. Bayangkan sekarang komunikasi saya dengan Beliau bisa dilakukan langsung via aplikasi WA, tanpa perlu melalui protokoler yang berbelit.

Contohnya, hanya dengan mengirimkan pesan WA kepada  Syekh Mohamed bin Zayed, saya bisa mengatur supaya Beliau bicara langsung dengan Presiden Jokowi via telepon. Dalam pembicaraan tersebut, Pak Jokowi menerima undangan untuk menghadiri acara Zayed Sustainability Prize di Abu Dhabi tanggal 13 Januari 2020. Selain itu Presiden juga sepakat untuk menyelesaikan semua poin perjanjian kedua negara.

Dari UEA saya kemudian bertolak ke Shanghai Tiongkok untuk finalisasi kerja sama mengenai pembangunan industri lithium baterai yang juga melibatkan Korea Selatan. Selanjutnya saya menghabiskan 1 malam di Seoul untuk finalisasi kerja sama dibidang yang sama dengan perusahaan LG. Setelah itu saya berangkat ke Nanning Tiongkok mewakili Presiden Jokowi dalam 16th CAEXPO (China-ASEAN Asean-China) dan sekaligus mengadaan pertemuan bilateral dengan pemerintah Tiongkok. Perjalanan saya berlanjut ke Beijing, lalu ke Amerika Serikat.

Di Washington DC saya bertemu dengan 5 orang senator dari partai republik maupun demokrat dan Jared Kushner menantu Presiden AS Donald Trump. Harus bertatap muka langsung dengan orang-orang Amerika yang tengah menduga bahwa Indonesia sudah lebih condong ke Tiongkok, membuat saya berpikir betul bagaimana caranya berkomunikasi dengan efektif.

Saat bertemu mereka, akhirnya saya putuskan untuk berbicara langsung tembak saja. Mungkin gaya bicara saya lebih mirip tentara daripada seorang diplomat.

Contohnya kepada para senator saya langsung bertanya, “Saya dengar Anda merasa ragu dengan kami. Itu sama sekali tidak perlu karena kami adalah negara yang terlalu besar untuk berpihak kepada salah satu kekuatan yang ada. Itu saya jamin dan itu sikap Presiden Jokowi yang kami para pembantunya terapkan dalam tugas.”

Begitulah bahasa saya kira-kira jika diterjemahkan. Selain itu saya juga secara terbuka mengatakan bahwa mereka sendiri kurang proaktif dalam menjalin kerja sama.“Kalian tidak pernah datang ke tempat kami. Padahal kami bukan negara miskin, kami tidak pernah minta-minta,” terang saya sembari menjelaskan mengenai baiknya kondisi ekonomi Indonesia dan banyaknya peluang investasi. Pertanyaan yang straight to the point juga saya ajukan kepada Jared Kushner, ”Sekarang Anda mau apa dari indonesia?”

Pertemuan terakhir itu berlangung di White House pada hari jumat minggu lalu jam 8.30 waktu setempat. Kesan saya, menantu presiden Trump ini sangat baik. Pemuda yang baru berusia hampir 40 tahun itu menjemput saya yang sedang berada di ruang tunggunya.

Pembicaraan saya buka dengan menyampaikan bahwa Presiden Jokowi begitu memiliki kesan positif terhadap Trump. Mendengar itu Jared langsung menimpali, “You know what, my father inlaw loves him very much. Presiden Jokowi is a very good leader in the emerging markets.”

Suasana yang begitu akrab membuat gaya bicara tembak saya makin keluar, “Kalau kau cinta, cinta apa. Buktikan cintamu dengan berinvestasi di Indonesia. Kami bekerjasama dengan siapapun, termasuk Tiongkok atau Uni Emirat Arab, atau negara manapun. Lantas kenapa kita tidak?”. ”Setuju,” responnya terhadap tawaran saya yang juga mencakup kemungkinan kerja sama perdamaian di Timur Tengah yang seharusnya melibatkan Indonesia sebagai negara dengan jumlah penduduk beragama Islam terbesar di dunia.

Sebagai bentuk tindak lanjut, Jared akan mengutus Adam Boehler selaku CEO International Development Finance Corporation (IDFC) untuk bertemu saya dan Menkeu Ibu Sri Mulyani di Indonesia pada pertengahan bulan Oktober ini. Kami akan membicarakan hal teknis mengenai pengalokasian sebagian dari dana investasi USD 60 miliar yang dikelola IDFC untuk masuk ke Indonesia.

Jared juga setuju untuk membantu satu orang wakil dari Indonesia untuk dapat menjadi Wakil Presiden World Bank, atau di jabatan selevel Director yang dulu pernah disandang oleh Bu Sri Mulyani.

Ada satu kesamaan yang saya lihat sepanjang pertemuan dengan Amerika ataupun UEA. Yaitu adanya rasa hormat kepada Indonesia dan khususnya kepada Presiden Joko Widodo. Hal itu membuat pekerjaan saya menjadi jauh lebih mudah.

Sembari terus mengikuti perkembangan di Tanah Air selama perjalanan dinas, saya kadang-kadang merenung ketika melihat demonstrasi-demonstrasi yang berujung ricuh. Istilahnya kita seperti menembak kaki kita sendiri, padahal di luar sana orang lain begitu menaruh respek pada Republik ini.

Akhir kata saya mengajak semua teman-teman untuk saling menyebarkan kebaikan. Bicara tentang kepemimpinan Presiden Joko Widodo, saya melihat banyak sekali yang sudah Beliau berikan untuk Republik ini. Tentu ada kurang atau lebihnya di sana sini, karena Beliau bukan manusia yang sempurna. [•••]

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

Cancel reply