Perlukan Kembali Ke Kompor Minyak Tanah?

Perlukan Kembali Ke Kompor Minyak Tanah?

Oleh : Salamuddin Daeng

Sudah maju harus mundur lagi- Dulu pemerintah  menggembar gemborkan bahwa peralihan minyak tanah ke bahan bakar LPG akan menghemat ekonomi Indonesia. Konon konversi minyak tanah ke LPG akan menghasilkan banyak penghematan diantaranya ; penghematan subsidi dalam APBN, penghematan impor minyak mentah dan penghematan minyak tanah sendiri dan efesiensi dalam penggunaan energi nasional.

Namun faktanya semua cuma khayalan. Pengalihan ini sama sekali tidak membantu ekonomi nasional, karena faktanya subsidi LPG justru meningkat fantastis, impor BBM dan LPG juga meningkat pesat, ekonomi semakin jauh dari efisien, kabarnya produksi minyak tanah malah melimpah.

Bahaya di depan mata saat ini adalah subsidi LPG telah menjadi juara dalam hal subsidi energi nasional, berada di atas nilai sunsidi solar, subsidi listrik dan subsidi minyak tanah. Nilai subsidi LPG mencapai Rp. 69,6 triliun lebih pada tahun 2019 ini. Meningkat dua kali lipat dibandingkan 2012 lalu,

Impor LPG juga sangat besar. Setiap tahun nilainya mencapai Rp. 40 triliun lebih. Impor LPG mencakup 65-75 persen kebutuhan LPG nasioal. Negara menderita defisit transaksi berjalan yang sangat besar, pertamina menderita peradangan keuangan yang juga besar akibat impor ini. Lebih membahayakan lagi indonesia yang sebelumnya tergantung pada impor minyak mentah, tergantung pada impor solar, tergantung pada impor premium, kini ditambah lagi tergantung pada impor LPG.

Lalu yang untung siapa? Tidak lain adalah para pelaku usaha impor LPG, para pemenang tender impor LPG, dan tentu saja negara pengekspor LPG ke Indonesia menerima bayaran atas pasar bahan bakar LPG indonesia. Bangsa indonesia semakin tidak berdaya karena pengelola negara menyodorkan barang impor yakni LPG  yang adiktif sehingga mengakibatkan masyarakat menderita ketergantungan.

Tampaknya sektor energi nasional harus melakukan tarian poco poco, dengan  bergerak mundur dan mundur dan mundur lagi, yakni kembali ke minyak tanah sebagai bahan bakar pengganti LPG.  Jika tetap memaksakan diri bergerak maju, maka itu artinya masuk jurang karena subsidi dan impor LPG akan membengkak, itu artinya masuk jurang defisit.

Ada jalan lain yakni mengganti LPG dangan LNG (gas alam). Mengingat Indonesia adalah negara eksportir LNG terbesar no tiga di dunia. Tapi untuk memanfaatkan LNG butuh infrastruktur yang bagus di dalam negeri. Mengapa selama ini infrastruktur LNG ini diabaikan? Siapa yang bermain? [•••]

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

Cancel reply