Lifting Migas dan Ketahanan Energy Nasional

Lifting Migas dan Ketahanan Energy Nasional

Oleh : Mamit Setiawan, Direktur Energy Watch

Setiap tahun pasti pemerintah dan DPR disibukan akan kesepakatan lifting migas nasional. Tahun ini, Pemerintah dan DPR sepakat lifting migas 2020 adalah sebesar 755 ribu BOPD lebih tinggi dalam RAPBN sebesar 734 ribu BOPD. Lucunya lagi, para K3S sebenarnya hanya memproyeksi diangka 672 ribu BOPD. Konsekuensi dari itu adalah,K3S digenjot untuk melakukan pengurasan sumur lebih masih lagi. Walaupun kita tahu,dalam 3 tahun terakhir target lifting tersebut tidak pernah tercapai.

Decline rate setiap tahun diangka 3-4% maka dibutuhkan kerja keras untuk mencapai targer lifting tersebut. Ditengah cadangan migas kita yang tak kunjung naik bahkan hampir setiap tahun mengalami penurunan dimana RRR (Reserve Replacement Ratio)hanya 60% bisa dipastikan cadangan minyak kita yang hanya 3.2 Milyar barel dan gas 97.5 TCF akan terus berkurang.

Berdasarkan kondisi tersebut,maka sudah seharusnya kita tingkatan kegiatan explorasi agar cadangan migas kita bisa meningkat. Kegiatan explorasi bisa tumbuh jika iklim investasi kita menarik bagi investor. Investor masih menunggu kepastian hukum dimana saat ini revisi UU Migas belum selesai.

Dengan kondisi demikian dimana banyak yang memprediksi kita akan mengalami krisis energi pada tahun 2025 seharusnya pemerintah lebih bijak lagi.Sudah saatnya kita tidak berpikir bagaimana menguras migas kita secara maksimal tapi justru menjaga cadangan migas kita untuk tetap stabil ataupun meningkat demi masa depan anak cucu kita selanjutnya.

Bahwa bangsa Indonesia kaya akan sumber migas bukan hanya dongeng tapi masih tetap mereka rasakan. Bahwa migas kita sebagai ketahanan energy nasional kita wajib dijaga dan dipelihara semaksimal mungkin. Memang dampak dari penahanan laju pengurasan ini akan berdampak terhadap penerimaan negara padahal saat ini sektor migas masih menjadi penunjang terbesar untuk APBN kita dimana tahun 2018 menjadi penerimaan negara nomer dua setelah pajak sebesar Rp 240 Trilyun.

Tapi,saya kira masa depan anak cucu kita ke depan lebih penting dengan sedikit mengorbankan penerimaan negara karena penerimaan negara bisa di dapatkan dari bidang lain sedangkan sumber daya alam migas bukan sumber daya yang bisa di perbaharui.[•••]

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

Cancel reply