Pemerintah Targetkan, 300 Ribu Tenaga Konstruksi Tersertifikasi Tahun Ini

Pemerintah Targetkan, 300 Ribu Tenaga Konstruksi Tersertifikasi Tahun Ini

Jakarta, linkpublik.com

Kementerian Pekerjaan Umum Dan Perumahan Rakyat (PUPR) menargetkan, sebanyak 300 ribu tenaga kerja konstruksi maupun tenaga ahli konstruksi bisa tersertifikasi tahun ini.

Target itu digenjot karena dari total 8,3 juta tenaga kerja di sektor konstruksi saat ini, baru sekitar 7,4 persen atau 616 ribu saja yang sudah memiliki sertifikat keahlian. Sedangkan kemampuan pemerintah dibantu asosiasi kontraktor hanya mampu melakukan sertifikasi sebanyak 40 ribu pekerja saja setiap tahunnya.

“Rata-rata sertifikasi tenaga kerja konstruksi yang mampu dicapai pemerintah bekerja sama dengan asosiasi kontraktor hanya 40 ribu per tahun. Tapi tahun lalu sudah 80.000 jadi sudah dua kali lipat dari 2017,” kata Dirjen Bina Konstruksi Kementerian PUPR,, Syarief Burhanuddin dalam acara diskusi di kantor Kementerian PUPR, Jakarta, Kamis (14/2).

Syarief menjelaskan, dari total 616 ribu tenaga kerja konstruksi yang tersertifikasi, yang berstatus tenaga ahli, tidak lebih dari 155 ribu orang atau hanya sekitar 27 persen dari total kebutuhan tenaga ahli bersertifikat yang dibutuhkan untuk menggarap proyek-proyek infrastruktur.

“Kebutuhan tenaga ahli (bersertifikat) mencapai 700.000 orang. Itu untuk tenaga ahli saja,” ungkapnya.

“Kemarin waktu Presiden melakukan sertifikasi 10 ribu (tenaga kerja) ternyata ada 12 ribu, dan Presiden minta 10 kali lipat dan lebih besar lagi Insya Allah sejuta,” imbuhnya.

Untuk mencapai target tersebut, Kementerian PUPR akan bekerja sama dengan asosiasi konstruksi dan pihak swasta untuk kegiatan sertifikasi tersebut. Dengan begitu, pemerintah pun tidak terlalu terbebani dari sisi anggaran yang harus dialokasikan di dalam APBN maupun APBD.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi (LPJK) Nasional Ruslan Rivai menargetkan ada 300.000 sertifikat keahlian yang dapat dikeluarkan pada tahun ini.

Kendati demikian, jumlah tersebut tidak sepenuhnya merepresentasikan jumlah orang yang akan tersertifikasi.

“Misalnya di jalan, ada ahli jalan dan project management. Jadi ada dua memang (sertifikat untuk satu orang). Supaya apa, tadi supaya 4.0, bagaimana mengatur proyek dengan metode high technology,” pungkasnya. (SNU)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

Cancel reply