Keputusan Menteri BUMN Terkait Penghapusan Direktorat Gas Pertamina, Gagal Hukum

Keputusan Menteri BUMN Terkait Penghapusan Direktorat Gas Pertamina, Gagal Hukum

Jakarta, linkpublik.com – Pakar Hukum Ekonomi dari Universitas Hasanuddin, Makasar, Juajir Sumardi, menilai putusan Menteri BUMN, Rini Soemarno, yang tertuang dalam Surat Keputusan (SK) Menteri BUMN Nomor 39/MBU/02/2018 tentang Pemberhentian, Perubahan Nomenklatur, Pengalihan Tugas Anggota Direksi Pertamina cacat hukum. Salah satu yang dinilainya bertentangan dengan konsititusi adalah penghapusan Direktorat Gas di PT Pertamina (Persero).

Akibat cacat hukum tersebut, kini proses persidangan atas gugatan dari Federasi Serikat Pekerja Pertamina Bersatu (FSPPB) di Pengadilan Tata Usaha Negeri (PTUN) Jakarta Timur masuk babak baru. Juajir menyatakan penghapusan Direktorat Gas di Pertamina condong ke arah politisasi hanya demi memuluskan akuisisi PT Perusahaan Gas Negara Tbk [GAS] terhadap PT Pertagas. Padahal di dalam PGAS terdapat saham publik yang mayoritas didominasi oleh kepemilikan asing.

Akibat dari SK Menteri BUMN tersebut, membuat tata kelola gas nasional menjadi sangat rawan dimainkan oleh swasta termasuk asing. Sementara amanat UUD 45 Pasal 33 ayat 2 disebutkan bahwa seluruh kekayaan alam harus dimanfaatkan untuk kepentingan rakyat Indonesia dan harus dikuasai oleh negara.

“Ternyata arahnya persoalan gas ini akan diserahkan kepada PGN, sedangkan PGN diposisikan sebagai anak usaha dari holding (migas). Kalau sebagai anak usaha holding maka status hukumnya akan berubah bukan lagi menjadi BUMN tapi menjadi badan usaha milik swasta sehingga kontrol negara terhadap anak usaha ini menjadi tidak efektif dibandingkan apabila persoalan gas itu ada di pertamina. Nah ini suatu bentuk pelanggaran,” kata Juajir di Jakarta, Selasa (10/7).

Dia juga menilai ada upaya akal-akalan pemerintah khususnya dari Kementerian BUMN untuk mengelabui rakyat dengan alasan efisiensi di tubuh Pertamina saat penghapusan Direktorat tersebut ditetapkan. Padahal semestinya Direktorat itu harus tetap ada karena faktanya kebutuhan gas menjadi kebutuhan utama masyarakat sehingga tidak tepat apabila pemenuhan kebutuhan hajat hidup orang banyak tersebut dikelola oleh perusahaan bukan BUMN.

“Jadi ada indikasi arahnya adalah bagaimana untuk mengurangi potensi penguasaan dan pengelolaan Pertamina terhadap gas karena akan diserahkan kepada PGN, padahal PGN bukan menjadi BUMN. Seharusnya dalam pengelolaan (gas) itu adalah Pertamina bukan swasta,” pungkasnya. (Din)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

Cancel reply