Rupiah Diprediksi Terus Melemah Hingga Akhir Mei 2018

Rupiah Diprediksi Terus Melemah Hingga Akhir Mei 2018

Jakarta,linkpublik.com

Tren pelemahan nilai tukar rupiah diprediksi akan terus berlanjut hingga akhir Mei 2018 ini. Pasalnya beberapa faktor pemicu dolar makin menguat cukup banyak. Oleh sebab itu pemerintah wajib melakukan langkah-langkah progresif agar rupiah tidak semakin terpuruk.

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Bhima Yudhistira Adhinegara, mengatakan peluang rupiah terdepresiasi atas mata uang dollar Amerika Serikat (AS) dikisaran Rp14.000 – Rp14.200 per dollar AS cukup besar. Hal itu karena adanya spekulasi dari investor terkait prediksi kenaikan Fed rate pada rapat Federal Open Market Committee (FOMC) pada Juni mendatang.  Spekulasi ini membuat capital outflow di pasar modal mencapai Rp11,3 triliun dalam 1 bulan terakhir.

Faktor lainnya adalah reaksi negatif dari investor atas capaian pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan I 2018 yang hanya mencapai 5,06 persen. Sentimen ini membuat pasar cenderung pesimis terhadap prospek pertumbuhan ekonomi tahun 2018 yang ditarget tumbuh 5,4 persen.

“(Faktor lainnya) harga minyak mentah terus meningkat hingga USD 74-75 per barel akibat perang di Suriah dan ketidakpastian perang Dagang AS-China. ini membuat inflasi jelang Ramadhan semakin meningkat karena harga bbm non subsidi (pertalite, pertamax) menyesuaikan mekanisme pasar,” kata di Jakarta, Rabu (9/5).

Selanjutnya, masih Bhima, faktor pemicu lainnya adalah permintaan dolar AS diperkirakan naik pada triwulan II 2018 karena emiten secara musiman membagikan dividen. Investor di pasar saham sebagian besar adalah investor asing sehingga mengkonversi hasil dividen rupiah ke dalam mata uang dolar. Dikatakannya bahwa importir lebih banyak memegang dolar untuk kebutuhan impor bahan baku dan barang konsumsi jelang Lebaran.

“Perusahaan juga meningkatkan pembelian dolar untuk pelunasan utang luar negeri jangka pendek. (Mereka menganggap) lebih baik beli sekarang sebelum dolar semakin mahal,” kata dia.

Sementara itu faktor yang terus mempengaruhi depresiasi rupiah adalah adanya fefisit transaksi berjalan tahun ini yang semakin melebar diperkirakan hingga 2,1 persen terhadap PDB. Selain karena keluarnya modal asing juga karena defisit neraca perdagangan yang diperkirakan akan kembali terjadi jelang Lebaran karena impor barang konsumsinya naik.

Melihat faktor pemicu pelemahan rupiah begitu banyak, Bhima berharap agar pemerintah memperkuat kinerja ekonomi domestik. Pemerintah harus mampu memulihkan kepercayaan investor dan menjaga stabilitas harga baik BBM, listrik maupun harga pangan jelang Ramadhan sehingga konsumsi rumah tangga yang berperan 56 persen terhadap PDB bisa pulih. Kemudian, pelaku usaha yang memiliki Utang Luar Negeri diharapkan untuk melakukan hedging atau lindung nilai. Sebab fluktuasi kurs ini sangat beresiko terjadinya gagal bayar utang valas.

“Sementara bagi perusahaan yang bersiap membagikan dividen perlu mempersiapkan pasokan dolar untuk memitigasi kedepannya kurs dolar semakin mahal,” pungkas Bhima. (Din)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

Cancel reply