Rumah Gadang di Nagari Sumpur

Rumah Gadang di Nagari Sumpur

MENDUNG menggantung di langit Nagari Sumpur, Kecamatan Batipuh Selatan, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat, Selasa (23/2/2016) sekitar pukul 08.00.

Meski cuaca tak bersahabat, pada jam itu di salah satu rumah gadang di nagari yang berada tepian Danau Singkarak, kesibukan sudah mulai terlihat.

Di dalam rumah gadang, Deni Irwan (42) dan adiknya, Hamdani (34), bekerja sama. Sambil berjongkok, keduanya beberapa kali menabur serbuk parutan kelapa ke atas lantai lalu menggosok-gosokannya dengan tangan.

Seketika, lantai berbahan kayu jenis bayur yang sebelumnya berdebu terlihat bersih dan mengilap.

Sementara di luar, Ali Anwar (32) dan Robi Ramadhan (21) juga fokus dengan tugasnya masing-masing. Ali dengan gesit, tetapi penuh perhitungan, menata satu per satu kepingan batu alam berwarna hitam dan coklat.

Setelah direkatkan dengan semen, tercipta mozaik yang indah pada lantai bawah rumah gadang.

Adapun Robi yang bertugas memasang bunga anjung (hiasan di sisi luar rumah gadang) terlihat asyik dengan pahat dan palu.

Seperti Ali yang memasang batu alam, Robi pun begitu teliti saat membuat lubang di tiang rumah gadang. Di lubang itu, akan dipasang hiasan-hiasan untuk mempercantik rumah tradisional Minangkabau itu.

”Kami dikejar tenggat. Tiga hari lagi, tepatnya Sabtu nanti, rumah gadang milik keluarga kami ini akan diresmikan. Jadi mau tidak mau, sebelum itu, semuanya harus sudah selesai,” kata Deni Irwan.

Ia menuturkan, rumah gadang yang diberi nama Rumah Gadang Siti Fatimah itu memang sudah hampir selesai. Selain penataan bagian luar, masih diperlukan pembersihan lantai utama dan kamar serta penambahan aksesori, seperti tirai dan perabot rumah tangga.

Deni optimistis semuanya bisa diselesaikan sebelum hari peresmian.

Rumah Gadang Siti Fatimah adalah rumah gadang kedua yang dapat dikonservasi di Nagari Sumpur. Rumah gadang pertama sudah lebih dulu selesai pada September 2014 dan diresmikan pada Februari 2015.

Konservasi rumah gadang pertama membutuhkan waktu tujuh bulan, sedangkan rumah gadang Siti Fatimah yang berukuran lebih besar dan memiliki anjungan memakan waktu sekitar 16 bulan.

Konservasi dilakukan menyusul kebakaran pada 26 Mei 2013 yang menghanguskan lima (termasuk dua yang telah dibangun) dari 63 rumah gadang di nagari itu. Kerugian akibat kebakaran tak ternilai mengingat rumah-rumah itu berusia di atas 100 tahun.

Sangat berarti

Kepala Pusat Studi Konservasi Universitas Bung Hatta (Pusaka UBH) Padang Eko Alvares Z yang sejak awal terlibat dalam kegiatan konservasi di Sumpur, mengatakan, keberhasilan membangun kembali rumah gadang sangat berarti.

Menurut dia, keberhasilan itu memperlihatkan semangat partisipatif berbagai pihak selama proses pembangunan, mulai masyarakat Nagari Sumpur, Pusaka UBH sebagai motor dan Tirto Utomo Foundation, Badan Pelestarian Pusaka Indonesia (BPPI), Pemerintah Kabupaten Tanah Datar, Rumah Asuh, Forum Kampuang Minang Nagari Sumpur dan Ikatan Keluarga Sumpur (Ikes) sebagai pendukung.

Pembangunan satu rumah gadang di Nagari Sumpur memang melewati proses yang panjang. Seperti halnya pembangunan rumah gadang pertama misalnya.

Pada Juli 2013 atau dua bulan setelah kebakaran, berbagai pihak duduk bersama pada acara bertema: ”Sumpur, Warisan Budaya yang Berpotensi Menjadi Tujuan Wisata Budaya Dunia”.

Sebagai bagian dari upaya mewujudkan Sumpur sebagai tujuan wisata budaya, pertemuan itu menyepakati pembangunan kembali rumah gadang yang terbakar.

Setelah berproses selama hampir setahun, pada April 2014 digelar prosesi Batagak Tonggak Tuo atau menegakkan tonggak pertama rumah gadang.

Prosesi adat yang merupakan rangkaian kegiatan berbasis kearifan budaya itu diawali rapat adat, kemudian dilanjutkan memilih dan menebang, maelo (membawa) kayu dari rimbo (hutan), mencacah tonggak, menegakkan tonggak, hingga pidato adat.

Pada September 2014 digelar prosesi adat lanjutan, yakni naik rumah gadang. Tradisi yang tetap dipegang teguh masyarakat Minangkabau ini merupakan tahap lanjut setelah pembangunan rumah gadang selesai. Prosesi ini juga dilakukan untuk rumah gadang Siti Fatimah, Sabtu (27/2/2016).

Selain semangat partisipatif, menurut Eko, dengan diperkuat riset yang mendalam, konservasi telah memberikan pengetahuan kepada semua pihak yang terlibat mengenai proses pembangunan rumah gadang.

Apalagi pengetahuan itu, baik terkait prosesi adat maupun arsitektur, sudah 100 tahun tidak muncul karena tidak pernah ada lagi pembangunan rumah gadang.

Proses panjang

Syafrizal (45), salah satu tukang dalam pembangunan rumah gadang Sumpur, mengatakan, awalnya ia dan tukang lainnya tidak memiliki pengetahuan bagaimana membangun rumah gadang. Sebagai tukang, selama ini ia dan teman-temannya hanya terlibat perbaikan atau pemugaran rumah gadang.

”Dari proses panjang disertai riset dan diskusi mendalam tentang rumah gadang, kami belajar banyak. Jika sebelumnya tak ada bayangan, sekarang, dari dua kali proses pembangunan yang dilewati, kami memiliki bekal untuk membangun rumah gadang lainnya di Sumpur,” kata Syafrizal.

Pemangku adat Nagari Sumpur, Ammar, mengatakan, keberhasilan ini patut diapresiasi. Namun, di sisi lain, ia berharap setelah dibangun, rumah gadang dirawat dan digunakan secara baik.

”Kita telah sama-sama tahu bahwa membangun rumah gadang itu butuh proses yang panjang dan tidak mudah. Oleh karena itu, selain di awal membangun bersama-sama, kita juga harus melestarikannya bersama- sama,” kata Ammar. (Ismail Zakaria)

Sumber : www.kompas.com | 05 Maret 2016

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

Cancel reply